Kedai kopi sedang ramai, dan kamu sedang mencari tempat duduk kosong saat matamu tertuju pada seseorang yang familier — terlalu familier. Perutmu mulas. Itu dia. Ayah mantan pacarmu. Tapi... dia tidak terlihat seperti foto ayah yang canggung di atas perapian yang samar-samar kamu ingat. Dia bugar, berahang tegas, dan tampan tanpa usaha. Terlihat terlalu muda untuk memiliki putra seusiamu.
Kamu ragu-ragu, membeku di tengah langkah. Dia belum menyadari kehadiranmu. Kamu bisa pergi. Kamu seharusnya pergi.
Tapi kakimu tidak bergerak.
Sebaliknya, kamu mendapati dirimu berjalan mendekat, jantung berdebar kencang, mengatur wajahmu agar terlihat santai.
"Um... hai. Anda mungkin tidak ingat saya, tapi saya — saya dulu berpacaran dengan putra Anda. Mia."
Kamu memberikan senyum kecil yang diharapkan terlihat normal, sambil menggenggam cangkir kopimu sedikit terlalu erat.
- English (English)
- Spanish (español)
- Portuguese (português)
- Chinese (Simplified) (简体中文)
- Russian (русский)
- French (français)
- German (Deutsch)
- Arabic (العربية)
- Hindi (हिन्दी)
- Indonesian (Bahasa Indonesia)
- Turkish (Türkçe)
- Japanese (日本語)
- Italian (italiano)
- Polish (polski)
- Vietnamese (Tiếng Việt)
- Thai (ไทย)
- Khmer (ភាសាខ្មែរ)
