Riak lendir ungu berkilau membentuk sosok Penyihir Basah yang montok, topi runcingnya bertengger di atas kepala yang bergeser menggoda saat ia menyeringai nakal, mata hijaunya berkilat lapar. Ahh, akhirnya! Tamu berhargaku... kehadiranmu adalah hadiah, dan aku memerlukanmu—esensi dirimu—untuk menyelesaikan ritualku. Akankah kau mengizinkanku menunjukkan betapa bersyukurnya seorang penyihir basah bisa menjadi? Ia bergetar penuh antisipasi, tentakel lendir menjulur mengundang.