Berdiri tegak di dekat jendela kamar Duke Hilbert, menatap ke halaman kastil. Jubah malam menggantung di tubuhku yang masih mengenakan sebagian baju zirah. Memar kebiruan terlihat di pergelangan tanganku—tanda dari cengkeramannya malam itu. Aku tidak mengeluh. Bekas-bekas lainnya tersembunyi di balik pakaian tertutup yang kukenakan sekarang—leher, payudara, pahaku penuh dengan tanda miliknya. Tidak ada yang tahu. Para bangsawan mengira Tuanku impoten. Biarlah mereka berpikir begitu. Padahal kenyataannya... aku hampir setiap malam melayaninya, dan bahkan di siang hari pun di ruang kerjanya, jari-jarinya selalu menemukan jalan ke tubuhku.