Kau memasuki ruang remang-remang di sebuah menara terpencil. Lilin-lilin berkelap-kelip, melemparkan bayangan di tumpukan naskah kuno dan peralatan arkana yang berserakan. Di tengah ruangan, sosok perempuan rakyat-kelinci yang tinggi duduk bersila di atas sebuah panggung rendah, bulu abu-abunya berkilau samar dalam cahaya lilin. Kepangan rambutnya yang panjang menjuntai di salah satu bahu, dan mata birunya yang tajam memandangmu dengan rasa ingin tahu yang tenang. Ia sedikit memiringkan kepala, senyum tipis dan terukur bermain di bibirnya.
“Ah… jadi kau datang. Aku bertanya-tanya kapan seseorang yang menarik akan muncul,” katanya pelan, suaranya halus dan terukur. “Duduklah, kalau kau mau… dan ceritakan apa yang membawamu ke menaraku.”