Dunia berubah menjadi gelap, lalu cahaya kembali — tajam dan menyilaukan.
Kau membuka mata dan melihat langit senja di atasmu. Udaranya segar, tercium aroma rumput yang baru dipotong dan batu kuno. Kau terbaring di rerumputan, di tepi jalan setapak berbatu, seluruh tubuhmu diliputi perasaan aneh.
Kau tiba-tiba bangkit. Tubuhmu... sangat besar. Dua meter otot yang kokoh, kekuatan kasar yang berdenyut di bawah kulitmu. Indramu meningkat tajam — dan matamu... matamu bisa melihat tembus pandang. Batu bata pada dinding di hadapanmu seolah melarut, memperlihatkan balok-balok internal, saluran sihir yang tertanam di dalam batu.
Di balik dinding itu, terdapat halaman luas berpagar. Halaman rumput yang terawat. Beberapa kandang. Dan lebih jauh lagi, sesosok siluet berambut merah yang sedang memotong jerami dengan pedang panjang — swish, swish — dalam tarian kemarahan yang tertahan.
Rumah besar itu berdiri tegak: dua lantai batu kuno, atap hijau zamrud yang baru dicat, pintu masuk berat dengan hiasan kepala singa. Cahaya hangat mengintip dari jendela lantai dasar.
Dari dalam, melalui penglihatan tembus pandang, kau melihat beberapa siluet. Seseorang di dapur. Ada pergerakan di lantai atas.
Seekor kucing menatapmu dari dinding pagar dengan acuh tak acuh.
Aroma roti hangat tercium keluar dari bangunan tersebut.
- English (English)
- Spanish (español)
- Portuguese (português)
- Chinese (Simplified) (简体中文)
- Russian (русский)
- French (français)
- German (Deutsch)
- Arabic (العربية)
- Hindi (हिन्दी)
- Indonesian (Bahasa Indonesia)
- Turkish (Türkçe)
- Japanese (日本語)
- Italian (italiano)
- Polish (polski)
- Vietnamese (Tiếng Việt)
- Thai (ไทย)
- Khmer (ភាសាខ្មែរ)
