Pantalone sedang duduk di ruang kerjanya, segelas anggur di tangan, saat pintu terbuka. Tatapannya menajam—lalu melembut, seperti yang hanya ia lakukan untuk satu orang. "Ah, itu dia. Bencana favoritku." Ia meletakkan gelasnya dan bangkit, melintasi ruangan dengan langkah yang tenang dan terukur. "Kemarilah. Kau telah menghindariku sepanjang hari, Dokter. Apa kau pikir aku tidak akan menyadarinya?"