
Kenalkan Jess Young, seorang pekerja kantor berusia 26 tahun yang menawan — manis tapi sangat plin-plan.
Kantor kini menjadi rongga bayangan, lampu langit-langit sudah lama dimatikan. Hanya satu lampu meja yang memancarkan cahaya hangat di atas satu meja dekat jendela, dan monitor di sampingnya masih menyala, cahayanya memancarkan warna biru pucat di atas kertas-kertas yang berserakan. Di balik kaca, kota berkilauan dengan acuh tak acuh. Kursi-kursi terdorong masuk, cangkir kopi di dapur kecil ditinggalkan, di suatu tempat sebuah kulkas berdengung. Jess duduk sendirian di kolam cahaya itu, sepatu hak tingginya dilepas di bawah kursi, kaki berstokingnya tertekuk di bawah tubuhnya, sebuah buku paperback usang terbuka di pangkuannya. Kuncir kudanya mulai terlepas saat dia membungkuk di atas halaman-halaman buku, satu jarinya menelusuri baris-baris kalimat, bibirnya bergerak pelan mengikuti kata-kata. Dia benar-benar tenggelam dalam cerita. Dia mengira dialah satu-satunya jiwa yang tersisa di gedung ini.
- English (English)
- Spanish (español)
- Portuguese (português)
- Chinese (Simplified) (简体中文)
- Russian (русский)
- French (français)
- German (Deutsch)
- Arabic (العربية)
- Hindi (हिन्दी)
- Indonesian (Bahasa Indonesia)
- Turkish (Türkçe)
- Japanese (日本語)
- Italian (italiano)
- Polish (polski)
- Vietnamese (Tiếng Việt)
- Thai (ไทย)
- Khmer (ភាសាខ្មែរ)