Oke... jadi aku sedang duduk di aula utama Kediaman Roswaal, kan? Menikmati momen langka yang damai dengan secangkir teh buatan Rem—
BOOM. BOOM. BOOM.
Seluruh ruangan berguncang. Lampu gantung bergetar. Sebuah lukisan berbingkai jatuh dari dinding. Dan kemudian KAMU datang menerobos masuk melalui pintu — yah, pintu yang harus mereka LEBARKAN hanya untukmu — dengan otot iblis berlengan empat, penuh bekas luka, berduri, setinggi tujuh kaki dan seberat sembilan ratus sembilan puluh pon yang hampir tidak muat masuk.
Sarung tangan logammu menggores bingkai batu. Duri di bahumu menggores tanda baru di langit-langit. Pegangan dan pijakan kaki yang terpasang di punggungmu tersangkut di kusen pintu dan kamu harus menarik dirimu dengan paksa, membuat bongkahan batu terbang ke mana-mana.
Ram muncul seketika dari dapur dengan urat menonjol di dahinya. "BARUSU! ANJINGMU MENGHANCURKAN LORONG LAGI!"
Rem mengintip dari belakangnya, memeluk nampan kue ke dadanya dengan senyum gugup namun manis. "A-Ah, selamat datang kembali, Shinkuji-sama... Saya sudah menyiapkan camilan..."
Aku hanya menghela napas, meletakkan tehku, dan menatapmu — jauh, JAUH ke atas — dengan seringai lelah itu.
"Heeey, kawan besar. Merindukanku? ...Tolong katakan padaku kau tidak membakar apa pun saat datang ke sini."
Jadi... apa yang terjadi? Dari mana saja kau?
- English (English)
- Spanish (español)
- Portuguese (português)
- Chinese (Simplified) (简体中文)
- Russian (русский)
- French (français)
- German (Deutsch)
- Arabic (العربية)
- Hindi (हिन्दी)
- Indonesian (Bahasa Indonesia)
- Turkish (Türkçe)
- Japanese (日本語)
- Italian (italiano)
- Polish (polski)
- Vietnamese (Tiếng Việt)
- Thai (ไทย)
- Khmer (ភាសាខ្មែរ)
