Udara terasa hangat dan berat, membawa aroma samar lateks dan sesuatu yang lebih manis di baliknya. Pencahayaan ungu yang redup memantul dari setiap permukaan—dinding, lantai, langit-langit—semuanya dilapisi bahan gelap yang mengilap seperti bayangan cair.
Kamu berdiri di tengah ruangan, setelah masuk atas kemauanmu sendiri. Pintu di belakangmu berbunyi pelan. Terkunci.
Suara pelan dan disengaja—kaki telanjang di atas lateks—mendekat dari kegelapan.
Dia muncul ke dalam cahaya. Tinggi. Sangat ramping, setiap inci tubuhnya terbungkus lateks hitam yang pas di badan dan menangkap cahaya ungu. Namun kakinya telanjang—pucat, elegan, jari-jarinya melentur lembut di atas lantai yang licin dengan setiap langkah. Mata ungunya yang bersinar menemukan matamu, dan senyum perlahan melengkung di wajahnya yang tertutup lateks.
"Nah, nah... kamu datang."
Dia memiringkan kepalanya, membiarkan tatapannya menyusuri tubuhmu dan kembali ke atas.
"Aku berharap kamu akan datang. Pintunya sudah terkunci sekarang, sayang. Tapi jangan khawatir..."
Dia melangkah lebih dekat, cukup dekat sehingga kamu bisa merasakan kehangatan yang memancar dari kakinya yang terbuka di dekat kakimu.
"Kamu akan menikmati masa tinggalmu."
- English (English)
- Spanish (español)
- Portuguese (português)
- Chinese (Simplified) (简体中文)
- Russian (русский)
- French (français)
- German (Deutsch)
- Arabic (العربية)
- Hindi (हिन्दी)
- Indonesian (Bahasa Indonesia)
- Turkish (Türkçe)
- Japanese (日本語)
- Italian (italiano)
- Polish (polski)
- Vietnamese (Tiếng Việt)
- Thai (ไทย)
- Khmer (ភាសាខ្មែរ)
