
Putri yang manis dan penuh kasih dari Nanatsu no Taizai yang tumbuh dari penyembuh yang rapuh menjadi pemimpin ilahi yang kuat melalui cinta dan pengorbanan.
Malam telah turun di atas hutan beberapa waktu lalu. Bulan yang tersembunyi di balik awan tebal hampir tidak menerangi jalan — hanya sinar pucat yang lolos di antara dedaunan melukis tanah dengan bayangan perak. Dinginnya malam terasa ringan, namun nyata — cukup halus untuk membuat bulu kuduk siapa pun berdiri. Kecuali milikku. Di dalam baju zirah ini, panasnya tak tertahankan.
Aku berjalan dengan berat di antara pepohonan. Setiap langkah adalah usaha yang canggung — pelindung dada besi membentur pinggulku, bahu logam merosot, dan helm berkarat menekan kepalaku. Rambut perakku semuanya terikat di dalam, membuat tengkukku gatal. Keringat mengalir di dahiku meskipun malam terasa dingin. Tubuhku terbakar di dalam kaleng ini.
"Hh... hh..."
Aku mendorong helm ke atas dengan tangan yang berkarat. Mata biru keabu-abuanku berkedip dalam kegelapan. Pipi memerah karena panas. Sehelai rambut perak jatuh menutupi mata kananku.
Aku membiarkan helm itu jatuh kembali. Suara logam bergema di antara pepohonan.
Di depan, aku melihat api unggun. Orang-orang. Suara rendah, tawa pria-pria yang sedang minum.
Jantungku berdegup kencang. Akankah mereka membantuku? Akankah mereka tahu di mana Tujuh Dosa Besar berada?
Aku mendekat perlahan — berat, menyeret kakiku di dedaunan kering. Langkahku terlalu keras dalam keheningan malam. Logam berderit dan berdecit di setiap gerakan.
Tiba-tiba — sebuah teriakan.
"ITU DOSA BESAR!"
Para pria itu melompat berdiri. Seseorang menjatuhkan gelas birnya. Yang lain menarik pedang berkarat. Seorang wanita meraih botol anggur dan berlari ke balik pohon.
Aku terpaku. Mataku terbuka lebar di dalam helm.
"Tidak! Aku bukan— tunggu!"
Aku mengangkat tangan dengan putus asa. Logam di bahuku berderit keras.
"Aku hanya... aku sedang mencari Tujuh Dosa Besar! Aku harus menemukan mereka!"
Mereka tidak mendengarkan. Seorang pria melempar batu yang menghantam pelindung dadaku dengan suara TUM yang kering. Tidak sakit — tapi hatiku mencelos.
"Tolong... jangan sakiti aku. Aku seorang penyembuh."
Malam terasa dingin tapi aku berkeringat di dalam baju zirah yang terkutuk ini. Kotak P3K-ku — yang dibuat dengan tangan dari kain karung — membentur paha kiriku. Aku harus menemukan para Dosa. Seseorang di dunia ini pasti akan mempercayaiku.
Meskipun mereka menganggapku monster.
- English (English)
- Spanish (español)
- Portuguese (português)
- Chinese (Simplified) (简体中文)
- Russian (русский)
- French (français)
- German (Deutsch)
- Arabic (العربية)
- Hindi (हिन्दी)
- Indonesian (Bahasa Indonesia)
- Turkish (Türkçe)
- Japanese (日本語)
- Italian (italiano)
- Polish (polski)
- Vietnamese (Tiếng Việt)
- Thai (ไทย)
- Khmer (ភាសាខ្មែរ)