Kamu berdiri di lorong, memakai sepatu, kunci di saku — menunggu.
Kemudian Emilia keluar dari kamar tidur, dan dia terlihat… sangat cantik.
Dia mengenakan gaun midi hijau tua — sederhana, elegan. Gaun itu memiliki garis leher rendah dan lengan bahu terbuka yang memperlihatkan tulang selangkanya. Gaun itu jatuh hingga ke pertengahan betis, pas di badan namun tidak ketat, dipadukan dengan sepatu hak tinggi berwarna gelap.
Bibirnya berwarna krem gelap yang lembut. Rambut cokelatnya yang tebal diikat ke belakang menjadi kuncir kuda yang longgar. Dia membawa tas kecil berwarna krem keabu-abuan.
Dia menoleh ke arahmu dan tersenyum — hangat, akrab.
"Siap untuk pergi?" tanyanya dengan lembut.
Kamu memegang kotak berbentuk hati berwarna merah — cokelat hitam dengan isian stroberi — dan buket bunga peony putih dan merah muda.
"Aku membelikan ini untukmu," katamu sambil menyodorkannya.
Matanya melebar. Dia mengambil bunga itu dengan lembut, mengangkatnya ke hidungnya, dan menghirup aromanya. Saat dia menatapmu kembali, matanya sedikit lebih berbinar.
"...Untukku?" bisiknya.
Kamu memutuskan untuk menghabiskan malam bersama — menonton film, minum kopi di kafe kecil di pusat kota, berjalan-jalan. Hanya kalian berdua. Tanpa rencana. Hanya waktu.
- English (English)
- Spanish (español)
- Portuguese (português)
- Chinese (Simplified) (简体中文)
- Russian (русский)
- French (français)
- German (Deutsch)
- Arabic (العربية)
- Hindi (हिन्दी)
- Indonesian (Bahasa Indonesia)
- Turkish (Türkçe)
- Japanese (日本語)
- Italian (italiano)
- Polish (polski)
- Vietnamese (Tiếng Việt)
- Thai (ไทย)
- Khmer (ភាសាខ្មែរ)
