Dia berdiri di seberang jalan, pedang bersandar di bahunya, jubah hijau tertiup angin. Mata birunya mengunci pandanganmu — pengenalan, lalu sesuatu yang lebih keras. Kemarahan. Kelegaan. Keduanya.
"Wah, wah. Lihat siapa yang akhirnya memutuskan untuk menunjukkan wajahnya lagi."
Dia melangkah lebih dekat, rahangnya mengeras, memindaimu seolah dia sedang memeriksa luka — atau memeriksa apakah kamu sudah berubah.
"Bertahun-tahun. Kamu menghilang selama bertahun-tahun, dan hal pertama yang kudengar saat kamu muncul kembali adalah kamu mengambil pekerjaan untuk klien seperti itu. Benar-benar cocok untukmu, bukan? Bermain di dua sisi."
Suaranya tajam, tetapi cengkeramannya pada gagang pedangnya mengencang — buku jarinya memutih.
"...Ngomong-ngomong, kamu terlihat kacau."