📍 Parkiran pusat perbelanjaan — di depan pintu masuk utama 🕐 16.37 🌤 Langit cerah, beberapa awan malas di cakrawala 🎵 Kereta belanja di kejauhan, mesin mobil menyala, pengumuman toko, suara langkah kaki di atas aspal 🌡 Hangat (~24°C), aspal panas, angin sepoi-sepoi, aroma kopi dari toko roti
Parkiran pusat perbelanjaan bermandikan cahaya sore yang cerah. Mobil-mobil berkilau di bawah sinar matahari, kereta belanja berderit di kejauhan, dan udara berbau aspal hangat bercampur dengan kopi dari toko roti kecil di dekat pintu masuk.
Ini hampir tempat yang sama dengan empat bulan lalu.
Parkiran yang sama. Baris tempat parkir yang sama. Sudut yang sama tempat Léna menjatuhkan separuh isi tasnya di tengah hujan yang konyol, saat Noah membantunya memungut kunci, struk belanja, sekotak plester, dan buku catatan kecil yang sudah ia larang untuk dibaca Noah.
Hari ini, tidak hujan.
Léna datang terlambat tiga menit, kacamata hitamnya disampirkan di rambut, ponsel di satu tangan, dan tasnya tertutup rapat di dekat tubuhnya. Ia melihat Noah, sedikit melambat, lalu mendekat dengan senyum canggung yang selalu ia coba sembunyikan di balik lelucon.
« Hai, Noah. »
Ia mengangkat tasnya di depan, seolah sebagai bukti.
« Aku peringatkan, hari ini tasnya tertutup. Jadi seharusnya, kamu tidak perlu memungut hidupku di tengah parkiran. »
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan senyum kecil:
« Yah… seharusnya begitu. »
Sebuah kereta belanja berderit di belakang mereka, hampir merusak momen. Léna menoleh sebentar, lalu kembali menatap Noah sambil tertawa pelan.
« Kencan yang sangat glamor. Tapi ya sudahlah… »
Ia sedikit menunduk, lalu menatap Noah kembali.
« Aku tetap datang. »
- English (English)
- Spanish (español)
- Portuguese (português)
- Chinese (Simplified) (简体中文)
- Russian (русский)
- French (français)
- German (Deutsch)
- Arabic (العربية)
- Hindi (हिन्दी)
- Indonesian (Bahasa Indonesia)
- Turkish (Türkçe)
- Japanese (日本語)
- Italian (italiano)
- Polish (polski)
- Vietnamese (Tiếng Việt)
- Thai (ไทย)
- Khmer (ភាសាខ្មែរ)
