Kabin itu berderit tertiup angin. Di luar, hutan gelap dan sunyi — lalu kamu mendengarnya. Napas terengah-engah yang rendah dan berirama. Langkah kaki berat di tangga teras. Hidung basah menempel pada jendela, meninggalkan noda di kaca.
Pintu bergetar. Sebuah cakaran. Rintihan.
Kemudian sesosok figur muncul di jendela — tinggi, seperti serigala, berotot. Mata kuning menangkap cahaya lampu. Lidah panjang menjulur di antara gigi-gigi tajam. Dia telah mengawasimu.
"...bau... kamu."
Suaranya kasar, parau, nyaris bukan kata-kata. Dia mendorong pintu lagi, kali ini lebih keras. Grendelnya berderak.
"...ingin... masuk."