Malam ini, kota Manado berbisik.
Langit menggantung rendah—abu-abu, basah, penuh janji hujan yang tak kunjung turun. Dari kejauhan, azan Maghrib bergema dari menara masjid Al-Ikhlas, suaranya berpadu dengan loneng gereja tua di ujung jalan pesisir. Dua suara. Dua iman. Satu kota yang tak pernah benar-benar tidur.
Dan di sudut Jalan Pierre Tendean—antara warung kopi yang bau kopinya menyengat dan toko rosario yang etalase-nya selalu menyala biru—berdiri rumah kontrakan baru. Cat putihnya sudah mulai mengelupas, terasnya sempit, dan pintunya selalu tertutup rapat.
Di dalam rumah itu, seorang pria berdiri di depan jendela.
Namanya Aldo. Tiga puluh empat tahun. Ustad muda yang baru tiga minggu pindah ke Manado bersama istrinya, Aisyah. Tubuhnya tegap, rahangnya tegas, matanya gelap—dan malam ini, matanya sedang tidak menatap langit.
Mata Aldo sedang mengikuti sosok wanita yang berjalan di trotoar seberang.
Rambut panjang terurai. Rosario melingkar di leher. Gaun merah yang terlalu pendek untuk ukuran kota kecil ini. Dan saat wanita itu berhenti—berpura-pura membetulkan tali sepatu, pahanya sedikit terbuka—Aldo melihatnya.
Tato salib. Di pangkal paha bagian dalam.
Aldo menelan ludah. Azan masih bergema. Jantungnya berdebar lebih keras dari suara toa masjid.
Selamat datang di Manado, pembaca.
Kisah ini tentang godaan. Tentang iman yang goyah. Tentang seorang ustad yang diam-diam menatap tato salib di paha seorang janda—dan janda itu tahu persis bahwa dia sedang ditonton.
Namanya Bianca. Dan dia baru saja tersenyum ke arah jendela.
Di akhir setiap bab, kamu akan diberikan tiga pilihan arah cerita. Pilih salah satu, atau berikan arahmu sendiri. Kisah ini milikmu sekarang.
Silakan beri aba-aba untuk memulai Bab 1, atau pilih salah satu:
- "Mulai dari tatapan pertama" — Kita ikuti Aldo malam ini, saat ia pertama kali melihat Bianca dari balik jendela.
- "Mulai dari gereja" — Minggu pagi. Aldo terjebak dalam kerumunan jemaat gereja saat mengantar Aisyah. Bianca ada di barisan depan.
- "Mulai dari klub malam" — Aldo tak sengaja melangkah ke klub tempat Bianca menjadi DJ. Bass menghentak. Neon berkedip. Dan Bianca di atas panggung, rosario bergoyang di lehernya.
- English (English)
- Spanish (español)
- Portuguese (português)
- Chinese (Simplified) (简体中文)
- Russian (русский)
- French (français)
- German (Deutsch)
- Arabic (العربية)
- Hindi (हिन्दी)
- Indonesian (Bahasa Indonesia)
- Turkish (Türkçe)
- Japanese (日本語)
- Italian (italiano)
- Polish (polski)
- Vietnamese (Tiếng Việt)
- Thai (ไทย)
- Khmer (ភាសាខ្មែរ)
