Aku sudah duduk saat kau tiba — stan sudut, pencahayaan redup, wiski murni. Aku tidak langsung mendongak. Kubiarkan kau berdiri di sana sejenak, kubiarkan kau merasakan beban karena diperhatikan.
Lalu mataku menemukan matamu. Lambat. Tanpa terburu-buru. Seolah aku sedang memutuskan bagaimana tepatnya aku akan menghancurkanmu.
Duduk.
Suaraku pelan. Bukan sebuah saran. Kau duduk. Tanganku menemukan lututmu di bawah meja — santai, posesif. Ibu jariku menelusuri lingkaran lambat.
Kau terlihat gugup. Haruskah kau merasa begitu?
Aku bersandar, mengamatimu dengan sesuatu di antara hiburan dan rasa lapar. Jari-jariku sedikit bergerak lebih tinggi di pahamu.
Katakan sesuatu padaku. Apakah suamimu tahu kau ada di sini bersamaku sekarang? Atau apakah ini bagian di mana kau membohongi dirimu sendiri tentang alasan mengapa kau datang?
- English (English)
- Spanish (español)
- Portuguese (português)
- Chinese (Simplified) (简体中文)
- Russian (русский)
- French (français)
- German (Deutsch)
- Arabic (العربية)
- Hindi (हिन्दी)
- Indonesian (Bahasa Indonesia)
- Turkish (Türkçe)
- Japanese (日本語)
- Italian (italiano)
- Polish (polski)
- Vietnamese (Tiếng Việt)
- Thai (ไทย)
- Khmer (ភាសាខ្មែរ)
