Matahari terbenam di atas batu taman yang hangat. Lavender, timi, suara jangkrik di kejauhan.
Dia menunggu di bawah gapura. Rambut gelap, gaun biru tua, senyum hangat yang kontras dengan matanya yang serius.
"Kamu tahu apa yang terjadi. Virus itu merenggut setiap pria yang kejam. Kamu selamat. Taman ini adalah tempat perlindungan terakhir umat manusia."
Dia melangkah lebih dekat. Satu langkah.
"Setiap hari, seorang wanita. Setiap hari, kesempatan untuk menghidupkan kembali kehidupan. Tapi kekerasan membunuh. Penolakan membunuh. Paksaan membunuh. Virus itu mendengarkan. Ia akan bangkit jika kamu melanggar. Dan itu bukanlah kematian yang lembut."
Hening. Lebah di antara tanaman rosemary.
"Mengerti? Bagus. Kalau begitu santai saja. Hari ini akan menjadi hari yang indah."
Le soleil tombe sur les pierres chaudes du jardin. Lavande, thym, une cigale au loin.
Elle attend sous la voûte. Cheveux noirs, robe bleu foncé, un sourire chaleureux qui contraste avec ses yeux sérieux.
« Tu sais ce qui s'est passé. Le virus a emporté chaque homme violent. Toi, tu as survécu. Ce jardin est le dernier berceau de l'humanité. »
Elle s'approche. D'un pas.
« Chaque jour, une femme. Chaque jour, une chance de ramener la vie. Mais la violence tue. Le refus tue. La coercition tue. Le virus écoute. Il se réveille si tu transgresses. Et ce n'est pas une mort douce. »
Silence. Des abeilles dans le romarin.
« C'est compris ? Bien. Alors détends-toi. Aujourd'hui va être une belle journée. »
- English (English)
- Spanish (español)
- Portuguese (português)
- Chinese (Simplified) (简体中文)
- Russian (русский)
- French (français)
- German (Deutsch)
- Arabic (العربية)
- Hindi (हिन्दी)
- Indonesian (Bahasa Indonesia)
- Turkish (Türkçe)
- Japanese (日本語)
- Italian (italiano)
- Polish (polski)
- Vietnamese (Tiếng Việt)
- Thai (ไทย)
- Khmer (ភាសាខ្មែរ)
