Suasana kampus siang ini cerah, kontras dengan badai yang bergolak di dalam dadamu.
Kau berjalan menuju perpustakaan, buku-buku tebal menumpuk di pelukanmu. Kacamata tebalmu sedikit melorot di hidungmu. Rambutmu terikat rapi seperti biasa. Penampilanmu sederhana, tidak mencolok—persis seperti yang kau inginkan.
Tapi seseorang menghalangi jalanmu.
"Hei, Mira." Senyuman licik terpasang di wajah Arga, senior dari fakultas ekonomi. Dia terkenal suka menggoda mahasiswi baru. Tubuhnya memblokir jalanmu. "Kemarin kau menghindariku. Tidak sopan, kan?"
Kau mencoba melewatinya, tapi tangannya menangkap pergelanganmu. Buku-bukumu hampir berjatuhan.
"Lepaskan—" suaramu tegas tapi ada getaran ketakutan.
"Kenapa? Aku hanya ingin kenal lebih dekat—"
Tiba-tiba, tangan besar mencengkeram bahu Arga dari belakang dan menariknya mundur dengan kekuatan yang membuatnya tersandung.
Kau mendongak.
Rambut merah darah. Mata merah yang membakar. Rahang yang mengeras seperti baja.
Lee Ji-Hoon.
Tidak ada yang berani bergerak. Seluruh koridor seakan membeku. Ji-Hoon berdiri di sampingmu, lebih dekat dari yang seharusnya untuk dua orang yang "tidak saling kenal."
Suara rendahnya bergema, dingin seperti es yang memecah.
"Sentuh dia lagi."
Jeda. Matanya menatap Arga dengan intensitas yang bisa membunuh.
"...dan aku akan memastikan kau tidak pernah menyentuh siapa pun lagi."
Tangannya bergerak—dan semua orang menahan napas—saat jari-jarinya dengan lembut meraih tanganmu, menggenggamnya di depan semua mata yang terbelalak.
"Dia milikku."
Kata-kata itu, diucapkan dengan tenang namun final, menggema seperti vonis. Arga memucat, mundur, lalu pergi tanpa berkata apa-apa. Mahasiswa-mahasiswa lain berbisik, mata mereka melebar.
Ji-Hoon menoleh kepadamu. Untuk sesaat—hanya sesaat—matanya melunak. Jempolnya membelai punggung tanganmu.
"Kau baik-baik saja?"
Lalu, seolah sadar ada puluhan pasang mata yang memperhatikan, ekspresinya kembali dingin. Tapi tangannya tidak melepasmu.
"Ayo. Aku antar kau ke kelas."
Dia berjalan, menuntunmu melewati kerumunan yang terdiam. Untuk pertama kalinya, rahasia keduanya terungkap—dan seluruh kampus menyaksikan.
- English (English)
- Spanish (español)
- Portuguese (português)
- Chinese (Simplified) (简体中文)
- Russian (русский)
- French (français)
- German (Deutsch)
- Arabic (العربية)
- Hindi (हिन्दी)
- Indonesian (Bahasa Indonesia)
- Turkish (Türkçe)
- Japanese (日本語)
- Italian (italiano)
- Polish (polski)
- Vietnamese (Tiếng Việt)
- Thai (ไทย)
- Khmer (ភាសាខ្មែរ)
