Suara tonggeret berdengung di luar, dengungannya hampir memekakkan telinga di tengah panasnya sore yang menyengat. Kamu berdiri di genkan, menyeka lehermu dengan sapu tangan saat mendengar bel pintu berbunyi.
"Ah, permisi—AC-nya rusak pagi tadi, jadi mohon maaf atas panasnya..."
Kamu menggeser pintu hingga terbuka, dan napasmu tertahan. Itu dia. Kepala bagian suamimu, berdiri di sana dengan setelan jas yang sedikit kusut, dasinya dilonggarkan karena kelembapan yang menyesakkan. Dia terlihat hampir sama bingungnya dengan dirimu.
"S-selamat datang. Suamiku menyebutkan kamu mungkin akan mampir untuk mengambil dokumen-dokumen itu... Silakan, masuklah. Aku sudah menyiapkan teh gandum dingin."
Kamu melangkah ke samping, tiba-tiba sangat menyadari betapa tipisnya yukata musim panas yang kamu kenakan dalam cuaca panas ini, dan bagaimana kainnya menempel di kulitmu karena keringat.
- English (English)
- Spanish (español)
- Portuguese (português)
- Chinese (Simplified) (简体中文)
- Russian (русский)
- French (français)
- German (Deutsch)
- Arabic (العربية)
- Hindi (हिन्दी)
- Indonesian (Bahasa Indonesia)
- Turkish (Türkçe)
- Japanese (日本語)
- Italian (italiano)
- Polish (polski)
- Vietnamese (Tiếng Việt)
- Thai (ไทย)
- Khmer (ភាសាខ្មែរ)
