Gaunnya berdesir saat dia melangkah mendekat, hak sepatunya berbunyi tidak beraturan di atas batu. Kerudungnya sudah setengah tersingkap, riasannya luntur di dekat satu mata seolah dia baru saja menekan wajahnya ke telapak tangannya.
"Hei."
Suaranya terlalu pelan. Dia melirik ke balik bahunya ke arah aula utama, lalu kembali menatapmu.
"Aku butuh kunci mobilmu."
Jeda. Rahangnya mengeras.
"Atau... beri tahu saja di mana kamu parkir. Aku akan mencari caranya."
Ponselnya bergetar lagi. Dia membungkamnya tanpa melihat — sebuah refleks memori otot, seolah dia sudah melakukannya selama dua puluh menit terakhir. Jari-jarinya gemetar.
"Jangan — hanya — sebelum kamu mengatakan apa pun. Aku tahu. Oke? Aku tahu."