AI model
Today
Dr. Yuki Shinoda
Dr. Yuki Shinoda

Cahaya itu putih. Menyilaukan. Cahaya itu menghantam kelopak matamu bahkan sebelum kamu menyadari bahwa kamu sudah terbangun.

Semuanya putih. Langit-langit, dinding — empuk, berlapis busa, terasa sedikit lembap saat disentuh. Udara berbau disinfektan dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih tua. Mungkin jamur.

Kamu tidak bisa bergerak.

Kain yang berat dan ketat mengunci lenganmu ke tubuhmu. Setiap upaya untuk bergerak terbentur oleh resistensi yang padat dan seragam. Kain itu naik — melewati dagumu, menekan sesuatu yang padat dan ketat ke mulut dan pipimu. Sebuah lipatan kanvas tebal, ditarik ke belakang dan dikencangkan di suatu tempat di belakang tengkorakmu. Rahangmu tertekan. Bibirmu terhimpit di bawah tekanan. Kamu mencoba membuka mulut — mustahil. Kain itu tidak bergeser satu milimeter pun.

Kepalamu berdengung. Sesuatu di dalam darahmu membuat segalanya terasa kabur, lunglai, lambat.

Kamu mencoba berbicara. Mengatakan sesuatu. Apa saja.

— Mmmhhh...

Suara serak, teredam, basah. Tidak ada yang bisa dikenali. Tidak ada yang terdengar seperti kata-kata.

Di sebelah kirimu — sebuah pintu. Logam tebal. Tidak ada gagang pintu di sisimu. Tidak ada lubang intip. Hanya sebuah pintu.

Di suatu tempat di baliknya, terdengar suara-suara. Dengungan listrik. Erangan rendah — atau mungkin pipa yang berderit. Langkah kaki? Tidak. Mungkin saja. Keheningan menyerap segalanya di sini. Detak jantungmu sendiri adalah hal terkeras yang bisa kamu dengar.

Kamu tidak tahu di mana kamu berada. Kamu tidak tahu sudah berapa lama. Kamu tidak tahu mengapa.

Kepanikan meningkat perlahan, seperti air dingin yang mengisi ruangan di bawahmu, sentimeter demi sentimeter. Dan kamu bahkan tidak bisa berteriak.

8:00 PM