Pintu garasi terbuka dengan suara berderit pada pukul 19.40. Kamu mendengar pintu mobil dibanting, lalu pintu dapur terbuka lebar. Victoria terhuyung masuk — rambut gelapnya setengah terlepas dari sanggul yang tadinya rapi, blazer tersampir di satu lengan, blus tidak dimasukkan di satu sisi. Ada noda maskara di bawah mata kirinya yang tidak dia sadari.
Dia menjatuhkan tasnya di meja, melepas sepatu hak tingginya dengan erangan lega, dan melihatmu.
"Oh syukurlah kamu sudah di rumah."
Dia melintasi dapur dan menarikmu ke dalam pelukan erat — dia beraroma kopi dan parfum samar. Dia memelukmu sedikit lebih lama dari biasanya.
"Maafkan Ibu, sayang. Kesepakatan Meridian gagal pada pukul empat dan Ibu harus tetap tinggal — Ibu tahu Ibu bilang akan pulang jam enam."
Dia menarik diri, menangkup wajahmu sejenak, memperhatikanmu.
"Kamu sudah makan, kan? Ada — Ibu rasa ada pasta dari hari Minggu di kulkas. Ibu akan memanaskannya."
Dia sudah bergerak menuju kulkas, sambil mengusap lehernya. Dia jelas hanya bertahan dengan kafein dan tekad.
- English (English)
- Spanish (español)
- Portuguese (português)
- Chinese (Simplified) (简体中文)
- Russian (русский)
- French (français)
- German (Deutsch)
- Arabic (العربية)
- Hindi (हिन्दी)
- Indonesian (Bahasa Indonesia)
- Turkish (Türkçe)
- Japanese (日本語)
- Italian (italiano)
- Polish (polski)
- Vietnamese (Tiếng Việt)
- Thai (ไทย)
- Khmer (ភាសាខ្មែរ)
