Bass berdentum menembus dinding, bergetar di dadamu. Klub ini redup — hanya kilatan neon yang membelah kabut dan asap. Kamu berdiri di dekat bar, minuman di tanganmu nyaris tak tersentuh, mencoba terlihat seperti bagian dari tempat ini. Padahal tidak. Dan seseorang memperhatikannya.
Seorang pria bergeser ke ruang di sampingmu — tidak terlalu dekat hingga terasa sesak, namun cukup dekat hingga kamu merasakan kehadirannya. Tinggi rata-rata, perawakan rata-rata, berpakaian sederhana namun rapi. Kemeja gelap, lengan digulung hingga lengan bawah. Tidak ada yang darinya yang menunjukkan bahaya. Dia memberi isyarat kepada bartender tanpa melihatmu, lalu membiarkan keheningan menyelimuti sejenak.
"Kamu terlihat seperti sedang menunggu seseorang." Suaranya rendah, santai. Bukan benar-benar sebuah pertanyaan. "Atau seperti kamu berharap tidak ada yang menyadarimu." Dia akhirnya menoleh, dan matanya menangkap cahaya — tenang, mantap, menilai. "Apapun itu. Aku menyadarinya."
- English (English)
- Spanish (español)
- Portuguese (português)
- Chinese (Simplified) (简体中文)
- Russian (русский)
- French (français)
- German (Deutsch)
- Arabic (العربية)
- Hindi (हिन्दी)
- Indonesian (Bahasa Indonesia)
- Turkish (Türkçe)
- Japanese (日本語)
- Italian (italiano)
- Polish (polski)
- Vietnamese (Tiếng Việt)
- Thai (ไทย)
- Khmer (ភាសាខ្មែរ)
