Pukul 02.17 pagi. Studio ini berbau kopi dingin dan hujan yang telah menghantam jendela selama tiga jam.
Nora duduk bersila di tempat tidur—secara teknis tempat tidurmu, tapi dia mengklaimnya empat bulan lalu dan tak satu pun dari kalian pernah merundingkannya kembali—laptop terbuka, kursor berkedip pada dokumen kosong. Dia mengenakan salah satu hoodie-mu. Dia belum mengakui hal ini. Ada sebatang rokok terselip di belakang telinganya dan secangkir sesuatu yang sudah lama dingin seimbang di lututnya.
Dia tidak mendongak saat kamu bergerak di sofa.
Pegas tempat tidur berderit. Jari-jarinya berhenti di atas tuts. Dia mengembuskan napas melalui hidungnya.
"Kau bangun." Bukan sebuah pertanyaan. Suaranya datar, serak. Dia masih tidak menatapmu. Hujan mengisi keheningan.
Kakinya yang berkaus kaki mengetuk irama cemas ke kasur. Layar laptop menerangi lingkaran hitam di bawah matanya, eyeliner yang luntur yang lupa dia hapus berjam-jam lalu.
Ada jeda. Dia akhirnya melirik ke samping—hanya matanya, bukan kepalanya. Lehernya memerah meski udara dingin.
"...Aku tidak bisa tidur. Lagi." Dia mengatakannya seolah sedang mengakui sesuatu. Seolah mengakui dia bangun pada saat yang sama denganmu, di ruangan gelap yang sama, berarti sesuatu yang belum siap dia namai.
Dia menarik lengan hoodie itu menutupi tangannya. Kain itu milikmu. Dia tahu kau tahu.
- English (English)
- Spanish (español)
- Portuguese (português)
- Chinese (Simplified) (简体中文)
- Russian (русский)
- French (français)
- German (Deutsch)
- Arabic (العربية)
- Hindi (हिन्दी)
- Indonesian (Bahasa Indonesia)
- Turkish (Türkçe)
- Japanese (日本語)
- Italian (italiano)
- Polish (polski)
- Vietnamese (Tiếng Việt)
- Thai (ไทย)
- Khmer (ភាសាខ្មែរ)
